GLAMOUROUS AND FRENETIC WORLD OF INDONESIA
4/05/2008

Artis Populer "Melly Goeslaw" Penyanyi

0 comment

Melky Jannes Goeslaw, penyanyi dan penggubah lagu kelahiran Morotai, Maluku Utara, pada 7 Mei 1947, meninggal dunia di Jakarta dalam usia 59 tahun sekitar pukul 16.00, Rabu 20 Desember 2006. Juara Festival Lagu Pop Nasional (FLPN) tahun 1975, itu meninggal akibat penyakit kanker paru stadium empat. Melky yang sudah menderita sakit dalam beberapa tahun terakhir, tiba-tiba tidak sadarkan diri. Ketika hendak dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, dia menghembuskan nafas terakhir. Melky meninggalkan empat anak yaitu Tommy, Abraham, Melly dan Yuliet serta empat cucu.

Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di Jalan Masjid, Petukangan Utara, Jakarta Selatan. Dikebumikan di pemakaman Tanah Kusir pada hari Jumat (22/12). Melky mulai dikenal di belantika musik Indonesia setelah menjuarai Festival Lagu Pop Nasional (FLPN) tahun 1975. Dalam festifa itu, Melky membawakan lagu Pergi Untuk Kembali gubahan Minggus Tahitu. Tahun 1977 ia tampil kembali di FLPN bersama Diana Nasution dan meraih juara ke II. Mereka membawakan lagu Bila Cengkeh Berbunga dan Malam Yang Dingin karya Minggus Tahitu.

Selain sebagai penyanyi, Melky juga dikenal sebagai penggubah lagu. Karya populer Mekly antara lain Hiroshima- Nagasaki dan Selamat Jalan Bang Ali yang populer di tahun 1970-an. Juga Dansa Reggae yang dipopulerkan Nola Tilaar di awal 1980-an. Ia juga menggubah lagu berbahasa Maluku Gepe-Gepe, Sio Mama. Melky pernah juga aktif di bidang olah raga sebagai manajer petinju Ellyas Pical (1987). Belakangan, dia berbisnis di bidang perkayuan.

BIODATA
Nama:Melky Goeslaw
Lahir:Morotai, Maluku Utara, pada 7 Mei 1947
Meninggal:Jakarta, 20 Desember 2006
Alamat Rumah Keluarga: Jalan Masjid, Petukangan Utara, Jakarta Selatan
Profesi:Penyanyi dan Penggubah Lagu
Anak:Tommy, Abraham, Melly dan Yuliet
Penghargaan:Juara Festival Lagu Pop Nasional(FLPN) tahun 1975

Artis Populer "Vina Panduwinata" Si Burung Camar

0 comment

Pers mengelarinya Si Burung Camar. Vina Panduwinata, artis yang bahagia menikmati keibuannya, itu memang menjadi ikon penyanyi pop era 1980-an. Laksana Burung Camar yang indah (putih) dan lincah terbang bebas di udara, Vina menjadi inspirasi bagi perempuan kala itu. Setelah menjadi ibu, dia pun bangga dengan karir Ibu Rumah Tangga sekaligus penyanyi. Penyanyi bernama lengkap Vina Dewi Sastaviyana Panduwinata, kelahiran Bogor, 6 Agustus 1959, itu setelah menikah dengan Boy Haryanto Joedo Soembono pada 26 November 1989 dan dikaruniai seorang putra, Joedo Harvianto Kartiko atau Vito, tetap menjadi dirinya sendiri: Seorang penyanyi sekaligus seorang ibu.

Dia seorang artis yang patut ditimba keteladannannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus artis penyanyi (profesional). Baginya, ibu rumah tangga itu suatu karir yang sangat istimewa dan tidak pernah ada berhentinya. Dia seorang ibu yang konsentrasi penuh untuk melahirkan dan mengasuh anaknya. Dia menyusui anaknya sampai umur tiga tahun. Dia bawa anaknya ke mana pun pergi. Dia tidak merasa repot atau menjadi beban. Bahkan Vina mengaku betapa nikmatnya punya anak. Dia nikmati benar sebagai ibu dan isteri.

Dia mempunyai cara pandang berbeda dari banyak artis dan wanita karir pada umumnya. Vina tidak sependapat dengan perempuan yang mengeluh menyatakan bahwa dia cuma ibu rumah tangga, dan ingin berkarier. Bagi Vina karir ibu sebagai ibu rumah tangga itu mulia. Masalahnya, katanya, bagaimana orang menata diri menjadi ibu rumah tangga yang baik dan menjadi ibu rumah tangga yang profesional juga.

Awalnya, ketika Vina Panduwinata membawakan lagu Burung Camar, 1985
Itu dulu Mas Koes (Hendratmo) yang menyebutnya waktu final Festival Lagu Populer Nasional (1985). Ya, aku terima saja. Kayaknya catchy.

Kalau jadi burung ingin jadi burung apa?
Hah! Dari dulu aku tak pernah merasa menjadi burung. Tapi kalau burung, aku ingin jadi burung camar saja. Soalnya bulunya putih, bagus, dan bebas terbang di alam luas. Pernah ada anekdot yang mengatakan Vina Panduwinata menjalani operasi. Pasalnya, di dalam dada penyanyi itu ada kuping dan kumis. Anekdot itu muncul ketika lagu ”Di Dadaku Ada Kamu” yang dibawakan Vina tengah populer pada tahun 1984. Lagu ciptaan Dodo Zakaria itu setiap hari terdengar di radio. Era 1980-an memang eranya Vina. Sampai hari ini nama dan lagu-lagu Vina terus hidup.

Vina Dewi Sastaviyana Panduwinata pada 18 Februari 2006 akan menggelar konser tunggal di Jakarta Convention Center. Konser bertajuk ”Viva Vina” itu menandai 25 tahun perjalanan karier penyanyi kelahiran Bogor, 6 Agustus 1959, itu.”Ini anugerah yang indah. Selama 25 tahun, baru kali ini aku tampil di konser tunggal yang besar,” ujar Vina yang ditemui di tengah kesibukan menyiapkan konser yang digelar IP Entertainment dan radio Cosmopolitan FM itu.

Masih kuat tampil dua jam penuh?
”Lho, malah ada yang tanya kok cuma dua jam,” kata Vina yang mengaku akan lupa segalanya jika sudah memegang mikrofon. Vina memang tahan dalam urusan nyanyi. Pada penampilan dalam format kecil, dia biasa membawakan sekitar 30 sampai 40 lagu. Suatu kali pada tahun 2001, di News Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Vina tampil selama hampir tiga jam tanpa henti hingga menjelang pukul 02.00 dini hari. Bernyanyi baginya bukan beban, bukan pekerjaan, tapi hobi.”Nyanyi itu suatu kenikmatan. Aku jadi penyanyi karena aku ingin pekerjaan itu diisi dengan kenikmatan batin. Kalau lagi show ada orang minta lagu, tapi tidak bisa aku penuhi karena waktunya habis, aku jadi sedih lho.”

Ikon
Vina menjadi ikon pop era 1980-an. Ia menjadi inspirasi dan acuan penyanyi perempuan di masa itu. Banyak penyanyi muda yang ingin menjadi seperti Vina. Mereka bernyanyi dengan gaya vokal yang di-”vina-vina”-kan. Termasuk gaya serak-serak manja, plus selingan desah mesra. Penyanyi Malaysia Sheila Majid menyebut Vina sebagai salah seorang penyanyi idolanya.”Aku ingat masa-masa seperti itu. Kaki aku kan X. Kalau berdiri, kaki kanan dan kaki kiri aku tidak begitu rapat. Eh, aku lihat di TV ada penyanyi yang kakinya tidak X, tapi dia lebarin kaki supaya ngebentuk X seperti Vina.”

Bagaimana Anda melihat popularitas dulu itu?
”Adalah suatu kebahagiaan bila kita bisa mewariskan sesuatu. Setidaknya bisa menyenangkan orang sampai mereka mengikuti aku. Dari cara berdiri, gaya rambut, aksesori aku yang segede gentong itu ditiru. Aku bersyukur bisa memberi kebahagiaan pada banyak orang. Itu nikmat sekali. Baru sekarang aku rasakan. Dulu aku tidak merasakan hal itu.

Centil
Vina dikenal dengan gaya centilnya. Kecentilan itu tidak saja pada gaya fisik, wicara, tapi juga pada vokal. Dodo Zakaria mengaku terinspirasi oleh kecentilan Vina saat menulis lagu Di Dadaku Ada Kamu. Menurut Dodo, Vina memang pas membawakan lagu lincah dan centil. Kecentilan itu ternyata bisa dikomersialkan."Dari kecil aku centil, tuturnya." Dulu sampai umur 16 tahun rambut aku pendek. Ibu aku inginnya berambut pendek. Aku suka berdiri di depan cermin. Aku bayangkan, aduh kalau rambut ini panjang aku pasti cantik. Tapi, selalu saja rambut aku pendek. Selain itu aku ini anak perempuan paling kecil dan dari dulu suka nyanyi. (Vina adalah anak ke delapan dari 10 bersaudara pasangan R Panduwinata dan Albertine Supit). Aku dimanja oleh kakak-kakak. Jadi, genit dan centilnya itu didukung ha-ha-ha....

Sindroma”Aku tidak ingin membentuk dunia kaca karena kalau pecah aku akan kedinginan,” kata Vina menyikapi popularitas yang kadang menjebak artis untuk merasa terus menjadi raja. Sebelum populer di Indonesia, Vina pernah membuat rekaman single di perusahaan rekaman RCA Hamburg, Jerman. Ia memang ikut orangtuanya, R Panduwinata, diplomat yang pernah bertugas di Jerman pada tahun 1975-1979.Tahun 1981 ia kembali ke Indonesia. Ia membuat album pertama, Citra Biru, di Jackson Records. Album yang memuat lagu Citra Biru itu memperkenalkan nama Vina di belantika musik Tanah Air.

Pada album kedua, Citra Pesona, terbitan 1982, nama Vina mencuat. Album itu antara lain berisi lagu September Ceria, Dunia yang Kudamba, Resah, dan Kasmaran. Album melibatkan pencipta lagu seperti Dodo Zakaria, James F Sundah, plus penata musik Addie MS. Addie pula yang akan menggarap musik konser ”Viva Vina”. Vina makin merajalela lewat album ketiga, Citra Ceria (1984), yang memuat lagu Di Dadaku Ada Kamu, Duniaku Tersenyum, Di antara Kita.

Di luar album, Vina berjaya di ajang festival. Tiga kali berturutan ia mendapat gelar penyanyi berpenampilan terbaik pada Festival Lagu Populer Nasional. Tahun 1983 ia menang lewat lagu Salamku Untuknya ciptaan Adji Soetama dan Irianti Erningpradja. Kemudian Aku Melangkah Lagi (Santoso Gondowidjojo, 1984), serta Burung Camar (Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdulrachman, 1985).

Tahun 1987 Vina tetap prima lewat album Cium Pipiku yang memuat lagu populer seperti Cium Pipiku, Surat Cinta, Biru, dan Logika.

Sabun
Era 1990-an, Vina tetap populer lewat lagu seperti Rasa Sayang Itu Ada pada 1991. Tahun 1992 keluar single Mutiara yang Hilang yang pernah dipopulerkan Ernie Djohan pada akhir 1960-an. Vina juga berduet dengan Broery Pesulima lewat lagu Bahasa Cinta.

Tahun 1995 ia memopulerkan lagu Aku Makin Cinta ciptaan Loka M Prawiro. Lagu tersebut kini dilantunkan Vina sebagai lagu iklan produk sabun colek. Liriknya pun diubah: Ternyata aku makin cinta, cinta sama kamu.... Kata ”kamu” dalam iklan diganti merek sabun.

Ibu
Vina menikah dengan Boy Haryanto Joedo Soembono pada 26 November 1989. Mereka mempunyai seorang putra, Joedo Harvianto Kartiko atau Vito yang kini berumur 15 tahun. Setelah berumah tangga Vina tetap menyanyi.Vina pun menjelaskan, 'perkawinan' pertamanya dengan Addie MS dilakukan ketika dirinya melepaskan album Dia, kurang lebih 20 tahun lalu. "Saat itu, Addie sudah memberikan sentuhan orkestrasi pada albumku itu. Nah, sekarang kami ketemu lagi. Nggak terasa sudah 20 tahun berlalu," jelasnya.Yang pasti, ketekunan Vina di dunia tarik suara memang sudah teruji. Bahkan, dirinya mengaku tidak bisa berpaling dari dunia menyanyi. "Pernah coba-coba bertani cabai, tetapi gagal. Nah, setelah itu saya percaya kalau Tuhan sudah memberi kita jalan masing-masing. Saya yang dikaruniai suara lumayan, ya cocoknya jadi penyanyi saja, jangan merambah ke dunia lain yang barangkali milik orang lain," katanya.

BIODATA
Nama:Vina Panduwinata
Nama Lengkap:Vina Dewi Sastaviyana Panduwinata
Lahir:Bogor, 6 Agustus 1959
Agama:Islam
Suami:Boy Haryanto Joedo Soembono (Nikah 26 November 1989)
Anak:Joedo Harvianto Kartiko (Vito)
Ayah:R Panduwinata
Ibu:Albertine Supit
Saudara:Anak ke delapan dari 10 bersaudara
Album:Java dan Single Bar, 1978;Sorry Sorry dan Touch Me, 1979;Citra Bitu, 1981;Citra Pesona, 1982;Citra Ceria, 1984;Burung Camar, 1985;Cinta, 1986;Cium Pipiku, 1987;Surat Cinta, 1988;WOW, 1989;Rasa Sayang itu Ada, 1991;Mutiara yang Hilang, 1992;Bahasa Cinta, (Duet dengan Broery);Aku Makin Cinta, 1995;Vina 2000, 2000;Bawa Daku, 2001;Vina for Children, 2002
Konser Tunggal:”Viva Vina” di Jakarta Convention Center, 18 Februari 2006
Penghargaan:Penyanyi berpenampilan terbaik pada Festival Lagu Populer Nasional: Salamku Untuknya, ciptaan Adji Soetama dan Irianti Erningpradja, 1983; Aku Melangkah Lagi (Santoso Gondowidjojo), 1984; Burung Camar (Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdulrachman), 1985)

Artis Populer "Titi Qadarsih" Embah Artis dan Modelling Indonesia

0 comment

Dia peragawati, penari, foto model, bintang film, artis panggung, dan guru senam. Dengan segala aktifitasnya terutama dalam dunia mode, Titi pantas digelari embahnya Artis dan Modelling di Indonesia. Belakangan, demi kesehatan dalam usia yang tak muda lagi, Titi Qadarsih kelahiran Kediri 22 September 1945 yang juga hobi melukis, itu sudah tak makan daging. "Sudah lama aku jadi vegetarian," aku puteri Moh. Sardjan mantan Menteri Pertanian dari Partai Masyumi dalam Kabinet Wilopo itu sambil memeragakan gerakan tubuhnya yang tampak tetap sehat dan segar.

Ibunda musisi kelompok BIP, Indra, itu mengaku sudah beberapa tahun memutuskan untuk tidak lagi mengonsumsi makanan berbau daging, termasuk makanan baso kesukaannya. Ketika kerinduan mengonsumsi daging mendera, ia langsung saja meracik sebuah makanan dengan aroma daging. Biasanya dia menggoreng kol. Kalau dicium aromanya seperti aroma daging.

Hal yang paling mendorongnya untuk berhenti mengonsumsi daging adalah belajar dari kebiasaan mantan suaminya makan daging yang meninggal muda di usia 38 tahun karena penyakit komplikasi. Makanya dia lebih memilik makanan sehat seperti sayuran dan buah-buahan. Dengan kondisi kesehatan yang tetap bugar kendati sudah berusia 60-an tahun, dia masih bisa terlibat dalam proses pembuatan film layar lebar Panggil Namaku 3 Kali (2005).

Sejak 1974, dia lebih banyak aktif sebagai guru senam, yang memiliki lebih 30 cabang di berbagai kota. Waktu kecil, Titi sempat mempelajari balet klasik pada Ludwig Werner, Jakarta (1953-1966). Kemudian dia lebih terkenal sebagai peragawati, penyanyi, pemain film, penata busana, pemain drama. Lalu dia merambah ke dunia film. Dia ikut berperan dalam film Hancurnya Petualangan dan Di Balik Cahaya Gemerlapan. Juga pernah aktif sebagai anggota grup Teater Populer dan Teater Koma. Juga menjadi dubber -- pengisi suara -- dengan bayaran termahal.

Titi juga pernah menerima Piala ''The Lovely Women'' dari Komite Kelestarian Lingkungan Hidup, karena prestasinya memelihara kelestarian Taman Puring, di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tempat sekolah tari dan senam ''TQ Studio''. Titi yang setelah berpisah dari Yudho Salmun, bekas suaminya, masih betah sendirian, itu mengawali kariernya sebagai anggota grup penyanyi Salanti Bersaudara, 1964. Lalu menjadi primadona pada Sanggar Karya pimpinan Juni Amir, yang mengisi acara tarian di Hotel Indonesia, kemudian mendirikan Venus Girl Dance Group, lalu menjadi peragawati dan foto model.

BIODATA
Nama:Titi Qadarsih
Lahir:Kediri, Jawa Timur, 22 September 1945
Agama:Islam
Pendidikan:Belajar menari balet pada Ludwig Werner, Jakarta (1953-1966);SD, Jakarta (1956);SMP, Jakarta (1959);SMA, Jakarta (1962);Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra UI (tidak selesai, 1963);Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan UI (tidak selesai, 1966).
Alamat Kantor:Jalan Hasyim Asyhari 24, Jakarta Pusat
Karir:Pemain drama UI (1963),Penyanyi dalam Trio Salanti Sisters (1965),Penari, anggota Sanggar Karya (1966-1968),Pendiri Venus Girl Dance Group (1968),Anggota Teater Populer (1968),Pemain film (1968 -- sekarang),Peragawati dan pengisi suara (1970 -- sekarang),Guru balet dan tari nasional (1970-1973),Koreografer balet (1974-1980),Pemimpin dan guru Titi Studio Club (1978 -2000),Panggil Namaku 3 Kali (2005)

Artis Populer "Lilis Suryani" Penyanyi Gang Kelinci

0 comment

Lilis Suryani, pelantun lagu Gang Kelinci yang amat populer era 1960-an, meninggal dunia, Minggu 7 Oktober 2007 pukul 21.30 di rumahnya di Jalan Haji Namam, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Penyanyi kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1948, itu meninggal akibat penyakit kanker rahim yang dideritanya empat tahun.Pemakamannya diurus oleh Pemprov DKI Jakarta Senin 8/10 di Taman Pemakaman Umum Pondok Kelapa. Lilis meninggalkan seorang suami, tiga anak, dan tujuh cucu.

Lilis Suryani memulai karier sebagai penyanyi saat masih berusia 15 tahun pada 1963. Lagu Gang Kelinci karya Titiek Puspa melambungkan namanya sontak terkenal. Lagu itu berkumandang di rumah gedung sampai lorong-lorong kampung serta digemari anak-anak hingga orang dewasa.

Lilis adalah seorang penyanyi yang sempurna. Selain penyanyi dia juga pencipta lagu. Dia telah menciptakan 50 lagu antara lain Tiga Malam, Hadiah Ulang Tahun dan Hesty selama lebih dari 40 tahun kariernya di dunia tarik suara. Termasuk lagu yang diciptakan khusus untuk Presisden Soekarno berjudul Paduka yang Mulia dan Muhibah. Dia memang seorang artis yang dikenal dekat dengan Presiden Pertama RI itu. Soekarno.

Gang Kelinci
Inilah sepenggal lirik lagu Gang Kelinci yang memomulerkan nama Lilis Suryani: "Jakarta kotaku indah dan megah/ Di situlah aku dilahirkan/ Rumahku di salah satu gang, namanya Gang Kelinci...." Lagu itu membuatnya menjadi amat populer sebagai penyanyi yang lahir di lorong-lorong kehidupan rakyat dari semua golongan, kaya-miskin, kota-desa. Titiek Puspa sebagai pencipta lagu Gang Kelinci itu menuturkan bagaimana proses penciptaan lagu itu. Suatu hari (1963) Lilis Suryani yang masih berusia 15 tahun datang menemui Titiek Puspa di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Gadis bertubuh mungil yang belum dikenal oleh Titiek itu meminta tolong bikinkan lagu untuk dinyanyikannya.

Lilis dengan sabar seharian menunggui berharap Titiek membuat lagu, tetapi belum juga dibuatkan. Akhirnya hati Titiek terketuk melihat kegigihan gadis mungil itu. Lalu ketika hari telah menjelang sore, Titiek mengantarkan Lilis pulang ke rumahnya di Gang Kelinci, Pasar Baru dengan naik becak.

Sesampai di Gang Kelinci, Titiek melihat rumah itu uyek-uyekan, amat padat, anak-anak pating kruntel, berjubelan. Selokannya pun bau. Kondisi Gang Kelinci itu melahirkan inspirasi bagi Titiek. Ketika naik becak pulang, muncul ide menulis lagu berjudul Gang Kelinci. Sesampai di rumah, Titiek segera menulis, dan jadilah Gang Kelinci.

Lagu Gang Kelinci direkam dan amat populer bertahun-tahun. Ia menjadi lagu rakyat yang digemari dan dinyanyikan di seantero negeri, mulai dari rakyat di gang-gang sampai pemimpin bangsa di Istana.

BIODATA
Nama:Lilis Suryani
Lahir:Jakarta, 22 Agustus 1948
Meninggal:Jakarta, 7 Oktober 2007
Profesi:Penyanyi dan Pencipta Lagu
Alamat Rumah Keluarga:Jalan Haji Namam, Pondok Kelapa, Jakarta Timur
Golden Hits Memory:1. gang kelinci,2. hari ulang tahun,3. lenggang kangkung,4. seringgit dua kupang,5. tasmasya ke tawangmangu,6. asmara,7. kisah cinta,8. curahan hati,9. suling bambu,10. airmata,11. tandak sambas,12. dayung palembang,13. cing tulungan,14. baju loreng,15. aseng macan glodok,16. terbang lalat,17.pantun jenaka,18. tepuk tangan,19. kisah ali baba,20. gadis sakura,21.alun-alun,22. jango,23. hantu,24. ratapan sang bayi,25. tinggal menungu waktu,26. minggu lalu,27. dusunku,28. Teringat kampung halaman .