GLAMOUROUS AND FRENETIC WORLD OF INDONESIA
1/27/2008

Film Indonesia: Sang Dewi (2007)

0 comment

Kami sebenarnya ingin sekali tidak memberikan kancut pada Sang Dewi. Tapi setiap kali memaafkan satu kelemahannya, film ini selalu muncul dengan kesalahan baru.

Cerita dibuka dengan dua anak kecil, laki-laki dan perempuan, yang dikejar-kejar preman. Yang laki-laki berhasil menarik perhatian para preman sehingga melepaskan yang perempuan, walaupun akhirnya dia yang celaka.

Film berlanjut dengan tulisan “15 tahun kemudian” yang sangat cheesy dengan adegan pertandingan tinju gaya bebas di atas sebuah helipod sebuah gedung yang sangat tinggi. Sekalipun yang berkelahi adalah seorang petinju muda yang diperankan oleh Donny Alamsyah, tapi superimpose yang muncul adalah headline-headline koran (secara cheesy juga) tentang seorang petinju veteran yang baru keluar dari penjara, yang bukan karakter penting dalam film ini!

Petinju muda ini berlatih di sebuah sasana di mana seorang laki-laki bisu bernama Deno bekerja sebagai tukang sapu. Donny Alamsyah (sumpah kami nggak tau nama karakternya karena kurang jelas) melatih Deno untuk jadi petinju juga.

Sementara itu, seorang pelacur yang diselamatkan oleh Deno ketika akan bunuh diri, jadi penghambat karir Deno dan persahabatannya dengan Donny Alamsyah.

Dari sinopsis yang kami tulis di atas, mungkin bisa dirasakan bahwa ceritanya tidak fokus. Adegan pembukan 15 tahun yang lalu, terasa tidak penting. Bahkan, cerita yang melibatkan pelacur itu terasa seakan-akan dimasukkan setelah cerita utama tentang Deno dari tukang sapu ke petinju itu kelar. Mungkin ada yang bilang “kurang oke nih, kalo nggak ada cerita cintanya.” Di awal film kita dikasih tanda kalau ini akan jadi cerita pelacur itu, ternyata karakternya hanya jadi sempilan dan sama sekali tidak simpatik. Kelemahan terbesar memang datang dari skenario. Sudahlah tidak fokus dan diiisi dengan banyak narasi voice-over yang mengganggu, dialog-dialognya juga sangat cheesy. Sewaktu dia diselamatkan oleh Deno, pelacur itu bilang “apakah karena aku pelacur, aku tidak layak menikmati kematianku” (or something like that). Seiisi bioskop waktu kami nonton langsung tertawa terbahak-bahak. Belum lagi adegan pelatih tinju yang lebih mirip ibu tiri.

Cerita yang melodramatik diperparah dengan musik KBA (Kalau Berhenti Alhamdulillah). Setiap ada adegan yang melankolis, musik langsung nambahin “Eeee… eee… eee…”. Ketika musiknya berhenti, kita bilang “Alhamdulillaaah…”.

Kedua pemeran utama pria, Donny Alamsyah dan Volland Humonggio, menunjukkan akting yang oke. Tapi pemeran pelacurnya, Shabai Morscheck, yang terlihat bagaikan persilangan antara Luna Maya dan Leli Sagita menunjukkan akting yang sangat sinetronesque.

Sinematografi film ini sangat cantik. Adegan fightingnya juga bagus. Bahkan adegan Deno lari-lari seperti Ong-Bak juga sangat oke. Sayang sekali film ini dijangkiti kekejuan (cheesiness) yang akut dan skenario yang nyaris hancur.

Sutradara: Dwi Ilalang. Penulis: Dwi Ilalang, Republik Tebe, Masree Ruliat, Jeremias Nyangoen. Pemain: Shabai Morscheck, Donny Alamsyah, Volland Humanggio, Cathy Sharon. Produser: Adrianus Yoga D. Produksi: Big Daddy Production.

Film Indonesia: Hantu (2007)

0 comment

Dengan bangga, Sinema Indonesia mengumumkan hadirnya film horror “terbener” buatan dalam negeri. Jangan jadi “ilfil” dulu melihat posternya yang kurang menarik, atau beberapa nama pemain yang sering muncul di sinetron. Menonton Hantu adalah salah satu pengalaman menonton di bioskop yang paling fun yang pernah kami rasakan.

Film ini dibuka dengan seorang cewek yang lari di hutan dikejar-kejar hantu. Ini memang standard opening film horror banget, dan ketika hantunya muncul, nggak serem juga. Tapi ketika film berlanjut dengan lima orang anak muda yang akan backpacking ke hutan yang sama dan atraksi debus yang mencengangkan (no animals were harmed during the making of this movie. Yeah, right), film ini berhasil menarik perhatian kami. Dan dari situ, it becomes such a good ride and becomes better and better.

Perbedaan yang paling signifikan yang memisahkan Hantu dari film-film horror berkelas kancut adalah sense or humor yang berkelas, dialog dan akting para pemainnya yang sangat natural. Kalau di film lain karakter-karakternya berdialog seperti entah dari planet mana, karakter-karakter di film ini berinteraksi satu sama lain seperti layaknya kita sehari-hari. Ini yang membuat, sekalipun tidak dijelaskan latar belakang mereka dengan detil, kita jadi peduli dengan nasib mereka. Apakah mereka akan selamat atau tidak. Para pemainnya juga berhasil mengembangkan karakter mereka dengan baik. Bahkan Dhea Ananda dan Dwi Andhika (three words, “Get a haircut, Baby“) yang tadinya kami kira akan jadi beban film ini, ternyata menunjukkan penampilan yang mengasikkan. Makhluk yang menghantui anak-anak ini memang tidak sering muncul (dan lebih serem nggak keliatan ketimbang sebaliknya), tapi atmosfer kengerian berhasil dibangun oleh sutradaranya (sebuah debut penyutradaraan yang patut dihormati). Bahkan, beberapa adegan seremnya sangat “bull’s eye”.

Kecerdasan film ini membuat kita melupakan kelemahan teknisnya. Gambarnya sering burem dan lighting sering yang nggak pas (masak di hutan sering terang banget). Audionya juga naik turun, tapi untung saja musiknya sangat pas dan selalu berhasil membuat atmosfer jadi tambah serem.

Mudah-mudahan Hantu bisa jadi standard film horror Indonesia. Shanker dan Koya, learn from this film. Dan buat Andrianto Sinaga, siapa pun anda, selamat! dan kami tunggu karya-karya anda selanjutnya.

Sutradara: Andrianto Sinaga. Penulis: Shafa Wijanarko. Pemain: Oka Antara, Dhea Ananda, Dwi Andhika, Andhika Gumilang, Monique Henry. Produser: Chandra Willem. Produksi: Grandiz Media.

Film Indonesia: Merah Itu Cinta (2007)

0 comment

Sebelum film ini dirilis, promosi film ini menggembar-gemborkan bahwa film ini ditulis oleh seorang psikolog. Lho, kok malah bangga, ya? Bukannya skenario film seharusnya ditulis oleh seorang penulis skenario? Tapi mau bilang apa? Perfilman Indonesia memang absurd. Film dibikin oleh pedagang kain, bukan filmmaker. Pencuri diberi piala citra.

Merah Itu Cinta adalah film kedua dari “film-film warna” Rako Prijanto setelah Ungu Violet yang hanya menambah daftar film buruk Indonesia. Kalau mengingat bahwa warna itu banyak sekali dan Rako Prijanto kemungkinan akan membuat film tentang mereka semua, waduh, tidak berani kami membayangkannya. Di Ungu Violet ada kalimat menye-menye tiga kata: “Perih sekali, Landoooo...”. Di sini ada “Ini Cinta, Aryaaaaa...” Next apa, ya?

Film dibuka dengan adegan Yama Carlos (yang hanya akan menang bertanding akting dengan seekor hamster) menelpon pacarnya yang diperankan oleh Marscha Timothy, memberitahu bahwa dia sebentar lagi akan datang ke tempat Marscha Timothy dan “nggak sabar ingin ngerasai” Marscha Timothy. Kalau kalimat ini terasa janggal, mungkin karena ini kalimat baku dalam kuliah psikologi. Mungkin dosen psikologi sering bilang “Coba bukunya halaman 70 karena saya nggak sabar ingin ngerasai kamu.” Atau “Hari Jumat kita tes ya, anak-anak. Saya nggak sabar ingin ngerasai kamu.”

Rako Prijanto menghabiskan energinya supaya setiap dinding dicat dengan warna-warna yang mencolok. Tapi tidak memberi perhatian pada akting para aktornya. Apalagi aktor-aktor figurannya. Asli parah. Ada adegan polisi yang menyerahkan barang-barang peninggalan pacar Marscha Timothy kepada Marscha. Adegannya mirip adegan paskibraka menyerahkan bendera kepada presiden saking kakunya.

Dialog-dialog dalam film ini dijamin hanya akan membuat penonton garuk-garuk kepala karena tidak ada yang make sense. Hasilnya, kita tidak peduli dengan karakter Marscha Timothy. Kita jadi ingin membunuhnya karena dialog-dialognya sangat annoying.

Sutradara: Rako Prijanto. Penulis: Nova Rianti Yusuf. Pemain: Marsha Timothy, Gary Iskak, Yama Carlos, Inong. Produksi: Rapi Films. Produser: Gope T. Samtani, Subagio S.

Film Indonesia: Kangen (2007)

0 comment

Kabarnya, Nayato Fio Nuola pernah bilang bahwa dia hanya mau menggunakan nama aslinya untuk film yang dia buat dengan serius dan bisa dia banggakan. Ada beberapa pertanyaan yang muncul karena pernyataan ini. Pertama, kok bikin film bisa nggak serius. Kedua, bikin film nggak serius kok minta orang bayar buat nontonnya. Ketiga, bikin film kayak Kangen kok ya bisa bangga. Keempat, bikin film dengan serius saja cuma menghasilkan output kayak Kangen, gimana kalau nggak serius? Kelima, namanya yang asli itu yang mana? Nayato Fio Nuola, Pinkan Utari, Koya Pagayo, atau Sisca Dopert? Keenam, ngapain lagi sih pake nama samaran kalau semua orang juga sudah tau semua itu orangnya sama?

Kangen bercerita tentang seorang mahasiswi yang diperankan Bunga Citra Lestari dimaksudkan sebagai gabungan dari beberapa template cewek-cewek pengisi romantic comedy Hollywood: Brittany Murphy + Lindsay Lohan + Hamster. Hasilnya memang not too bad, tergantung bagaimana pandangan anda terhadap hamster. Nah, si cewek ini tadinya berantem terus dengan seorang mahasiswa baru yang diperankan oleh Rueben. Akhirnya setelah melalui proses yang sudah basi banget, mereka jadi pacaran. Tapi terus ternyata mantan si cewek mengganggu hubungan mereka.

Nayato tidak menghabiskan energinya untuk membuat cerita yang basi jadi terlihat fresh. Dia malah sibuk mengambil gambar-gambar low angle (itu tuh, gambar yang menghadap ke atas), cuma karena banyak properti yang cakep di atas kepala aktor-aktornya. Ada payung, ada dinding keren, ada bintang, ada pohon.

Skenario yang ditulis oleh MVP regular Ve Handojo juga seperti sering kehabisan ide. Ceritanya sering seolah-olah sudah selesai, eh terus nyambung lagi. Begitu berulang kali. Mungkin karena ketimbang mencoba untuk mengembangkan cerita, skenarionya hanya menitikberatkan pada Cute Factor. Plis deh, kalau hanya mau menimbulkan cute factor, mendingan yang main diganti saja dengan hamster.

Musik Andi Rianto juga masih, meminjan istilah teman saya Kevin Aditya, berada pada kategori musik KBA. Kalau Berhenti Alhamdulillah. Annoying most of the time. Please stop making fake orchestra with MIDI. It’s sooo sinetron gitu loh.

By the way, ngomong-ngomong, bikin film jelek atau bikin film bagus emang beda ya bujetnya? Kalau sama, kenapa MVP tidak milih filmmaker yang bagus sih? Tuh, Selamanya bisa oke.

Sutradara: Nayato Fio Nuola. Penulis: Ve Handojo. Pemain: Bunga Citra Lestari, Rueben Elishama Hadju, Nino Fernandez. Produser: Raam Punjabi. Produksi: MVP Pictures.

Film Indonesia: Genderuwo (2007)

0 comment

Satu lagi bukti bahwa kita tidak harus selalu percaya apa yang dikatakan oleh orang tua. Dulu, guru saya, guru ngaji saya, orang tua saya, sering bilang kalau budaya barat adalah budaya yang buruk dan merusak. “Hati-hati dengan produk budaya barat. Termasuk film barat,” kata mereka. Setelah saya dewasa, saya menonton produk budaya yang “buruk dan merusak” ini. Salah satunya adalah serial Sex and the City. Saya tidak tau dampak apa yang saya dapat dari mengikuti tontonan ini (selain kepingin jadi Manolo Blahnik sehingga dipuja perempuan). Tapi teman-teman cewek saya yang juga megikuti serial ini dengan setia jadi meningkat cita rasanya, dalam berpakaian, dalam berbicara, dan mereka juga kepingin jadi perempuan-perempuan independen seperti Carrie Bradshaw. Dengan cerita, akting, dan penggarapan yang bagus, serial ini telah menginspirasi banyak orang.

Terus terang, kebiasaan dicekoki tentang “bahaya” budaya barat ini membuat kita jadi tidak sadar bahwa produk budaya timur sering kali lebih berbahaya. Lebih buruk dan lebih merusak. Paling tidak merusak perfilman Indonesia. Lihat saja “film” Genderuwo. Kata “film” saya kasih tanda kutip karena bisa saja Genderuwo dianggap sebagai sebuah film, kalau kita mau. Tapi ini juga berarti kita harus menerima pendapat yang mengatakan bahwa jerawat adalah “makanan”. Bisa saja toh, dimakan? Kalau makan jerawat sekilo, kan bisa kenyang juga. Tapi pertanyaannya, how desperate are we? (Tuh, kan. Pake bahasa barat lagi).

Maaf, bukannya saya sengaja menyinggung SARA SECHAN (Suku Agama Ras Sex Citarasa Hanamasa dan Nationality. Mau dibilang garing terserah). Saya tahu saya tidak boleh membuat sebuah generalisasi. Tapi kenapa sih yang kebagian ke kita bukan orang-orang berbakat seperti Ruth Prawer Jhabvala atau Mira Nair? Kenapa kita hanya kebagian orang-orang seperti KK Dheeraj yang membuat Genderuwo?

KK Dheeraj adalah anti-tesis (ciiiah… pake bahasa keren sekali-sekali) dari dari banyak hal.
Kalau ada yang bilang budaya malu adalah budaya timur, orang ini menghancurkan anggapan itu. Di barat sana, kalau seorang sutradara tidak puas dan malu akan filmnya, dia boleh mengajukan permohonan untuk menghilangkan namanya dari film tersebut. Diciptakanlah nama palsu Alan Smithee untuk para sutradara yang tidak mau mengakui sebuah film adalah filmnya. KK Dheeraj bukannya malu dengan salah satu film terburuk (atau mungkin terburuk) dalam sejarah manusia, dia malah dengan bangga menambahkan kata “film horror yang berbeda dan bermutu” di poster filmnya. Padahal kenyataannya, tidak ada satupun kualitas yang bisa dilihat dari film ini yang bisa menghentikan orang waras dari bunuh diri setelah membuatnya. Kamera handphone Bik Jessika saja bisa menghasilkan gambar yang lebih bags dari gambar Genderuwo. Skenarionya seakan-akan bukan ditulis oleh manusia, tapi oleh hamster. Itu pun setelah hamsternya disiram air panas dan dipotong ekornya. Sadis ya? Tapi ya memang seburuk itu. Belum lagi artistik dan kostumnya. Oh my God. Hamster yang disiram air panas dan dipotong ekornya saja masih lebih enak dilihat ketimbang film ini.

KK Dheraj berpikir, bahwa penggambaran hantu terseram adalah dengan cara men-zoom-in dan men-zoom-out boneka jelek beberapa kali, lalu mengganti warna layar menjadi merah, biru, hijau, dan kuning, setiap kali boneka tadi di-zoom. Olala, orang ini luar biasa naif atau luar biasa kurang ajar?

Luar biasanya lagi, “film” ini seakan-akan diedit dengan menggunakan Power Point. Satu adegan hanya disyut satu shot. kalau butuh close-up, gambar tadi di-zoom di komputer. Gambarnya pun jadi kecil sekali pixel-nya sehingga ujung-ujung gambar berbentuk tangga. Persis kayak masking yang menutupi penis dan vagina di film-film blue Jepang.

Lupakan Psikopat yang membuat Sinema Indonesia menciptakan sistem rating kancut. Film ini membuat Psikopat terlihat seperti film The Godfather. Dan kami hampir saja membuat sistem rating tinja. Tapi paling tidak, film ini sudah menimbulkan rasa nasionalisme yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh kami. Dengan ini, kami sebagai bagian dari rakyat Indonesia menyatakan keberatan kalau ini disebut buatan Indonesia, dan menuntut film ini dicoret dari bagian dari sejarah perfilman Indonesia.

Sutradara, Produser, Pemain: Genderuwo

Official Site
P.S. Posternya bilang: Genderuwo adalah hantu terseram di dunia. Tinggi besar dan banyak bulunya. Mungkinkah poster ini mencoba memberitahu kita sesuatu yang lain?

Film Indonesia: Cintapuccino (2007)

0 comment

Terus terang, Rudi Soedjarwo adalah satu-satunya sutradara Indonesia yang membuat pendapat kami tentang dirinya selalu berubah-ubah. Ketika dia membuat Ada Apa Dengan Cinta?, saya dan Ferry langsung setuju kalau dia adalah salah satu sutradara yang bisa diandalkan untuk membangun perfilman Indonesia. Dari Bintang Jatuh dan Tragedi yang luar biasa amatiran, tiba-tiba dia membuat lompatan yang sangat tinggi dengan menbuat film yang kualitasnya bagus dan bisa diterima oleh segala lapisan masyarakat. Ada Apa Dengan Cinta? adalah contoh sempurna dari film komersial yang bisa dibanggakan kualitasnya. Dan kami saat itu yakin bahwa Rudi Soedjarwo akan membuat kejutan-kejutan lain yang lebih bermutu. Sayangnya, kemudian dia membuat serentetan film-film kancut dari mulai Rumah Ketujuh yang seringan kapas sampai dia mencoba untuk naik kelas menjadi filmmaker yang lebih serius dengan 9 Naga. Pandangan kami pun berubah. Tapi kemudian kami kembali bersorak ketika dia membuat Pocong 2 yang menyeramkan dan fun. Saat itu kami berpikir bahwa Rudi Soedjarwo adalah seorang sutradara bagus, tapi memiliki under-achiever complex. Dia seharusnya bisa memilih materi yang lebih bagus karena kapasitasnya sebagai sutradara sebenarnya baik. Mengejar Mas-Mas memang kami beri kancut, tapi kami bisa melihat kemampuan Rudi yang oke dalam mengarahkan pemain. Tapi kami tetap menyayangkan kenapa dia tidak mau memilih materi yang lebih baik. Padahal, Rudi sudah punya style yang unik dengan sistem suting tujuh harinya itu. Bukan tidak mungkin, dengan materi yang lebih baik, dia bisa menjadi versi kecil dari Steven Soderbergh saat dia membuat film-film realis yang kecil tapi berbobot.

Ketika kami mendengar dia akan memfilmkan sebuah chick lit, kami semakin sedih karena kami merasa dia semakin menyia-nyiakan bakatnya. Bahkan, seorang pengamat film yang cukup kami hormati tulisan-tulisannya, menyarankan bahwa Rudi Soedjarwo, sebagai seorang penerima Piala Citra (apapun artinya), sebaiknya berhenti membuat film dulu sampai dia mau membuat film dengan tidak “malas”. Tapi kami berpikiran lain. Memang seginilah kapasitas Rudi Soedjarwo. Dia tidak akan kemana-mana lagi. Cintapuccino adalah Rudi dalam permainan yang paling dikuasainya. Ringan, dangkal, dan simplistik. Dan kami rasa pandangan kami terhadap Rudi tidak akan berubah lagi dan kami tidak akan menuntut lebih banyak dari Rudi.

Cintapuccino, yang diangkat dari chick lit best-seller dari penerbit grosiran Gagas Media, bercerita tentang Rahmi (Sissy Pricillia) yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Raka (Aditya Herpavi). Tekad Rahmi untuk menikah tiba-tiba goyang ketika tiba-tiba seorang laki-laki yang sejak dari sekolah disukainya, Nimo (Miller), tiba-tiba muncul dan bilang kalau sejak dulu dia suka dengan Rahmi.

Cerita yang sangat tipis ini sekilas tak jauh berbeda dengan Kangen buatan Nayato Fio Nuola. Bedanya, Rudi Soedjarwo tak mau berpura-pura membuat filmnya lebih berat dan lebih indah dari yang seharusnya. Rudi memfokuskan bobot film ini di akting-akting para pemainnya dengan sinematografi dan set yang simplistik tapi tidak mengganggu. Harus diakui bahwa Rudi punya taste yang lumayan. Sissy Priscillia dan para pemain lain (soal Miller kita tinggalkan dulu), mampu menghidupkan film ini sehingga mudah untuk diikuti. Bahkan beberapa momen yang ada Sissy-nya benar-benar fun. Keterlibatan para pemain senior juga memberikan atmosfer yang segar dengan akting yang natural.

Yang hampir fatal adalah masuknya Miller sebagai cowok idaman Sissy yang hampir menghancurkan realisme film ini. Seorang cowok yang dari SMA sampai dewasa tidak pernah merubah gaya rambutnya is unlikely untuk digilai perempuan (walaupun cowok yang merubah gaya rambutnya tidak otomatis digilai perempuan. Contohnya Ferry). Belum lagi masalah aksen melayu Miller yang bikin ilfil. Pembenaran Rudi terhadap masalah ini tidak mampu membuat kita bisa menerima Miller sebagai idola.

Sekarang pertanyaannya, apakah Cintapuccino adalah sebuah film yang bagus dan layak ditonton di bioskop? Kami hanya bisa menjawab, di dunia yang lebih baik, film seperti ini hanya layak ditonton sebagai hiburan yang bisa diterima di TV. Tentu saja ada banyak sekali film romantis ringan buatan Hollywood yang dimaksudkan sebagai tayangan bioskop seperti One Fine Day, Serendipity, you name it lah. Tapi film-film itu dibuat dengan effort yang besar dengan memberikan production value yang tinggi, baik dari sinematografi, cast, set, kostum dan sebagainya sehingga membuat filmnya terlihat, terdengar, dan terasa sinematis.

Kesimpulannya, Cintapuccino bukan film yang buruk, Rudi bukan sutradara yang buruk. Tapi keduanya belong to TV.

Hikmah Kasus Film ”Buruan Cium Gue”

0 comment

Pemutaran film Buruan Cium Gue produksi Multivision Plus di bioskop-bioskop mengundang pro dan kontra. Padahal diakui Titi Said, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), film Buruan Cium Gue sudah melalui tahapan sensor, sehingga tidak menyangka reaksi masyarakat yang luar biasa menolaknya. Ratusan perempuan yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Antar Pengajian (Forsap) unjuk rasa ke kantor Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), 20 Agustus 2004, memprotes maraknya pornografi. Bahkan, kaum ibu yang mengaku mewakili 4.800 pengajian dari 23 provinsi di seluruh Indonesia ini menuntut agar Menbudpar I Gede Ardika mencabut izin produsen Buruan Cium Gue untuk membuat film. Mereka juga memprotes penayangan film TV dan VCD yang berbau porno, terutama adegan pakaian yang sangat minim.

Kasus film Buruan Cium Gue seakan melengkapi tayangan televisi yang berbau porno semacam Nah Ini Dia, Bioskop Dewasa, atau yang terbaru, Cucak Rowo yang sarat dengan eksploitasi seksual manusia yang sudah tak terkendalikan. Kontroversi film Buruan Cium Gue sesungguhnya menjadi bagian dari sejarah film Indonesia dan dunia sejagat. Tetapi film Buruan Cium Gue patut mendapat sorotan khusus, mengingat para pemainnya adalah kaum remaja yang diperankan untuk mengumbar nafsu birahi secara vulgar. Dan konyolnya, syuting maupun setting film Buruan Cium Gue sendiri diambil di sebuah sekolah, padahal lembaga pendidikan merupakan simbol yang menjunjung nilai etika dan moral pada posisi tertinggi. Reaksi penolakan masyarakat atas pemutaran film ini sudah benar. Simak juga adegan cium John Rice dan May Irwin dalam film The Kiss, yang melahirkan kehebohan di Amerika dan menyulut kemarahan kaum agama. Bahkan timbul dorongan untuk membuat peraturan sensor yang berpijak pada agama, padahal kita tahu free sex di Amerika, termasuk kaum mudanya, sudah merajalela sejak lama.

Seperti pada kasus-kasus berbau pornografi lainnya di Indonesia, bisa menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan. Yang pasti, munculnya gejolak di masyarakat terkait film berbau pornografi adalah akibat kriteria lulus sensor yang dianut LSF selama ini terlalu lemah. Guna meningkatkan kualitas kriteria penilaian lulus sensor, maka kinerja LSF perlu ditingkatkan, terutama program jemput bola terhadap masyarakat film. Kalangan film perlu melakukan kontrol ke dalam yang lebih baik agar tidak lagi menuai kecaman masyarakat. Tak kurang dari AA Gym, panggilan akrab tokoh agama KH Abdullah Gymnastiar, maupun Sekjen Majelis Ulama Indonesia Dr Din Syamsuddin beserta sejumlah artis Ibu Kota memprotes film Buruan Cium Gue, karena pemutaran film itu dinilai memberikan dampak negatif terhadap moral masyarakat terutama kaum remajanya. Sebab itu Menbudpar menyatakan film Buruan Cium Gue secara resmi ditarik dari peredaran. Berdasarkan instruksi dari Depbudpar, LSF akhirnya mengeluarkan surat pembatalan Surat Lulus Sensor (SLS) atas film Buruan Cium Gue.

Dalam pemutaran film tersebut tampak jelas bahwa para anak remaja yang memainkan peran Buruan Cium Gue sebenarnya sudah dieksploitasi demi mengeruk keuntungan industrialisasi media. Demi keuntungan industri film dan hiburan, dewasa ini anak-anak remaja kita ”diseret” ke dalam eksploitasi seksual dan ekonomi semata. Gairah dan sensasi seksual anak remaja dieksploitasi untuk dipertontonkan dengan tampilan yang seronok dan vulgar. Seperti biasanya, para pemodal maunya mengeduk keuntungan berlipat ganda di atas eksploitasi birahi atas anak-anak remaja. Dalam konteks itu mereka yang terjebak dalam komersialisasi industri media, jelas tidak relevan untuk dipahami sebagai hak pribadi yang sedang mengekspresikan diri. Sebab, alur kisah ataupun akting yang dilakonkannya bukan ekspresi otonom dari anak remaja, melainkan total hasil arahan skenario kapitalis industri film yang memang tidak bisa ditampiknya.

Pornografi sudah seperti candu yang mengandung bahaya besar dan merusak seluruh sendi kehidupan masyarakat khususnya bagi generasi muda, sehingga pemberantasan pornografi harus jalan terus. Pornografi bisa mengancam kehidupan moral pribadi seseorang yang menyukainya untuk berselingkuh. Pada kehidupan sosial, pornografi bisa memicu ben- trokan fisik di masyarakat seperti yang pernah terjadi di Kalijodo Jakarta Utara dan di Bongkaran Tanah Abang Jakarta Pusat.

Kejahatan Seksual
Tak sedikit rumah tangga menjadi berantakan gara-gara salah satu pasangan suami istri terprovokasi adegan-adegan panas dari VCD porno. Di samping itu banyak penggemar pornografi, baik yang masih bujangan maupun sudah berkeluarga, mereka menjadi acuh tak acuh bahkan sama sekali tidak memiliki apresiasi terhadap lembaga perkawinan.

Pornografi juga dekat dengan kejahatan seksual seperti yang sering terungkap dari hasil investigasi polisi terhadap kasus-kasus perkosaan, ternyata banyak pelaku mengaku melakukan perkosaan gara-gara terpengaruh VCD porno. Dari temuan Polda Metro Jaya selama tahun 2003, di DKI Jakarta tercatat 78 kasus kekerasan seksual yang terkait pornografi. Dalam seminar sehari ”Profesi di Bidang Komunikasi. Aset Intelektual di Masa Depan” di Jakarta (19/08/2004), telah ditekankan perlunya melakukan perlawanan terhadap media massa, termasuk produk perfilman yang mengabaikan etika dan moral sebagai implikasi dari komersialisasi dan industrialisasi media. Persoalan media massa yang tidak menggubris etika dan moral bukan hanya urusan pihak MUI, gereja, maupun para tokoh agama, tapi sudah menjadi urusan publik, karena dampak negatif pornografi selama ini telah terbukti banyak merusak keharmonisan keluarga dan keamanan masyarakat.

Anak-anak remaja paling rentan terhadap bahaya pornografi karena secara psikologi mereka sedang memasuki masa pubertas dengan libido (nafsu seksual) yang berpotensi meledak-ledak, di samping perasaan ingin tahunya yang sangat besar terhadap dorongan biologis itu. Agar mereka tidak menjadi korban pornografi, maka dalam keluarga kita, perlu ditumbuhkan kesadaran akan bahaya pornografi, pengawasan serius orangtua terhadap pergaulan anak, menginstal software penyaringan di perangkat komputer, membuat peraturan keluarga yang tegas dan jelas untuk anak di rumah tentang pemakaian komputer dan VCD, dan melakukan kegiatan yang positif di waktu senggang. Di sekolah-sekolah, pihak pendidik perlu mengarahkan waktu luang para siswanya melalui kegiatan ekstrakurikuler yang positif.